FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES BELAJAR DAN PEMBELAJARAN (faktor internal dan eksternal)
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI
PROSES
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Disusun Oleh :
1.
Astrid
Maria Magdalena Purba 171134183
2.
Vinsensia
Gita Larasati 171134058
3.
Pilipo
Inzagi 171134206
4.
Friska. K
Tarigan 171134098
5.
Angela
Widya
171134146
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta
2019
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan
merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan
jenjang pendidikan. Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semua mata
mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi
atau materi pelajaran.
Skinner, seperti yang dikutip Barlow (1985)
dalam bukunya Educational Psychology: The Teaching-Leaching Process,
berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah
laku) yang berlangsung secara progresif. Pendapat ini diungkapkan dalam
pernyataan ringkasnya, bahwa belajar adalah: “..... a process of progressive
behavior adaption”. Berdasarkan eksperimennya, B.F. Skinner percaya bahwa
proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi
penguatan (reinforcer).
Skinner, seperti juga Pavlov dan Guthrie,
adalah seorang pakar teori belajar berdasarkan proses conditioning yang pada
prinsipnya memperkuat dugaan bahwa timbulnya tingkah laku itu lantaran adanya
hubungan antara stimulus (rangsangan) dengan respons.
Chaplin (1972) dalam Dictionary of Psychology
membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi “....
acquisition of any relatively permanent change in behavior as a result practice
and experience” (Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif
menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman). Rumusan keduanya adalah process
of aquiring responses as a result of special practice (Belajar ialah perolehan
perubahan tingkah laku yang relatif
menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman). Rumusan keduanya adalah
process of aquiring responses a result of special practice (Belajar ialah
proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus).
Hintsman (1978) dalam bukunya The Psycology
of Learning and Memory berpendapat bahwa “Learning is a change in organism due
to experience which can affect the organism’s behavior” (Belajar adalah
suatuperubahan yang terjadi dalam diri organisme, manusia atau hewan,
disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme
tersebut. Jadi, dalam pandangan Hitzman, perubahan yang ditimbulkan oleh
pengalaman tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.
Wittig (1981) dalam bukunya Psychology Of
Learning mendefinisikan belajar sebagai: any relatively permanent change in an organism's behavioral repertoire
that occurs as a result of experience. Belajar ialah perubahan yang relatif
menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu
organisme sebagai hasil pengalaman).
Reber (1989) dalam kamusnya, Dictionary of
Psychology membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah
The process of acquiring knowledge ( proses memperoleh pengetahuan). Kedua,
belajar adalah A relatively permanent change in respons potentiality which
occurs as a result of reinforced practice ( suatu perubahan kemampuan bereaksi
yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat).
Biggs (1991) dalam pendahuluan Teaching for
learning: The View from Cognitive Psychology mendefinisikan belajar dalam tiga
macam rumusan, yaitu: rumusan kuantitatif; rumusan institusional; rumusan
kuantitatif.
-
Secara
kuantitatif ( ditinjau dari sudut jumlah ), belajar berarti kegiatan pengisian
atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi,
belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai
siswa.
-
Secara
institusional ( tinjauan kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses
validasi (pengabsahan) terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah
ia pelajari.
Proses pembelajaran adalah proses yang di dalamnya
terdapat kegiatan interaksi antara
guru-siswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif
untuk mencapai tujuan belajar (Rustaman, 2001:461). Dalam proses pembelajaran,
guru dan siswa merupakan dua komponen yang tidak bisa dipisahkan. Antara dua
komponen tersebut harus terjalin interaksi yang saling menunjang agar hasil
belajar siswa dapat tercapai secara optimal.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa
sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi belajar?
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui arti proses belajar
BAB
II
PEMBAHASAN
Faktor-faktor
yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua
golongan saja, yaitu faktor inten dan faktor ekstern. Faktor intern adalah
faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor
ekstern adalah faktor yang ada di luar individu.
A. FAKTOR-FAKTOR
INTERN
1.
Faktor
Jasmaniah
a)
Faktor
Kesehatan
Sehat
berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya/bebas dari
penyakit. Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat. Kesehatan seseorang
berpenagruh terhadap belajarnya.
Proses
belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu
juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika
badannya lemah. Kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan/kelainan-kelainan
fungsi alat inderanya serta tubuhnya.
Agar
seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya
tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang
bekerja, belajar, istirahat, tidur, makan, olahraga, rekreasi, dan ibadah.
b)
Cacat
Tubuh
Cacat
tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai
tubuh/badan. Cacat itu dapat berupa buta, setengah buta,tuli,setengah tuli,
patah kaki, dan patah tangan, lumpuh, dan lain-lain.
Keadaan
cacat tubuh juga mempengaruhi belajar. Siswa yang cacat belajarnya juga
terganggu. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan
khusus atau diusahakan alat bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh
kecacatannya itu.
2.
Faktor
Psikologis
a)
Inteligensi
Jadi inteligensi itu adalah kecakapan yang
terdiri dari tiga jenis yaitu, kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke
dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui menggunakan konsep-konsep
abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
Intelegansi besar pengaruhnya terhadap
kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat
inteligensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat
inteligensi yang rendah. Walaupun begitu siswa yang mempunyai tingkat
inteligensi yang tinggi belum pasti berhasil dalam belajarnya. Hal ini
disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak
banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan inteligensi adalah salah satu
faktor di antara faktor lain. Jika faktor lain itu besifat
menghambat/berpengaruh negatif terhadap belajar, akhirnya siswa gagal dalam
belajarnya. Siswa yang mempunyai tingkat inteligensi yang normal dapat berhasil
dengan baik dalam belajar, jika ia beajar dengan baik, artinya belajar dengan
menerapkan metode belajar yang efesien dan faktor-faktor yang mempengaruhi
belajarnya ( faktor jasmaniah, psikologi, keluarga, sekolah, masyarakat)
memberi pengaruh yang positif, jika siswa memiliki inteligensi yang rendah, ia
perlu mendapat pendidikan di lembaga pendidikan khusus.
b)
Perhatian
Perhatian
menurut Gazali adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu pun semata-mata
tertuju kepada suatu objek (benda/hal) atau sekalipun objek. Untuk dapat
menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap
beban yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa,
maka timbulah kebosanan, sehingga ia tidak suka lagi belajar. Agar siswa dapat
belajar dengan baik, usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian
dengan cara mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan hobi atau bakatnya.
c)
Minat
Hilgard memberi rumusan tentang minat adalah
sebagai berikut: “Interest is persisting
tendency to pay attention to and enjoy some activity or content”. Minat
adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa
kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus yang
disertai dengan rasa senang. Jadi berbeda dengan perhatian, karena perhatian
sifatnya sementara (tidak dalam waktu yang lama) dan belum tentu diikuti dengan
perasaan senang, sedangkan minat selalu diikuti dengan perasaan senang dan dari
situ diperoleh kepuasan.
Minat besar pengaruhnya terhadap
belajar,karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai degan minat
siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya
tarik baginya. Ia segan-segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasan dari
pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari
dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar.
Jika terdapat siswa yang kurang berminat
terhdap belajar, dapatlah diusahakan agar ia mempunyai minat yang lebih besar
dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan serta
hal-hal yang berhubungan dengan cita-cita serta kaitannya dengan bahan
pelajaran itu.
d)
Bakat
Bakat atau aptitude menurut Hilgard adalah : “the capacity to learn”. Dengan perkataan lain bakat adalah kemampuan
untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata
sesudah belajar atau beratih. Orang berbakat mengetik, misalnya akan lebih
cepat dapat mengetik dengan lancar dibandingkan dengan orang lain yang
kurang/tidak berbakat di bidang itu.
Dari uraian di atas dijelaskan bahwa bakat
itu mempengaruhi belajar. Jika bahan pelajaran yang dipelajari sesuai dengan
bakatnya, maka hasil belajarnya lebih baik karena ia senang belajar dan
pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam belajarnya itu. Penting untuk
mengetahui bakat siswa dan menempatkan siswa belajar di sekolah yang sesuai
dengan bakatnya.
e)
Motif
James Drever memberikan pengertian tentang
motif sebagai berikut:” Motive is an
effective-conative factor which operates in determining the direction of an
individual’s behavior towards an end
goal, consioustly apprehended or unconsioustly.”
Jadi motif erat sekali hubungannya dengan
tujuan yang akan dicapai. Di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau
tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang
menjadi penyebab berbuat adalah motif itu sendiri sebagi daya
penggerak/dorongannya.
Dalam proses belajar haruslah diperhatikan
apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau padanya
motif untuk berpikir dan memusatkan perhatian. Merencanakan dan melaksanakan
kegiatan yang berhubungan/ menunjang belajar. Motif-motif diatas dapat juga
ditanamkan kepada diri siswa dengan cara memberikan latihan-latihan
/kebiasaan-kebiasaan yang kadang-kadang
juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Dari uraian di atas jelaslah bahwa
motif yang kuat sangatlah perlu di dalam belajar, di dalam membentuk motif yang
kuat itu dapat dilaksankan dengan adanya latihan-latihan/kebiasaan-kebiasaan
dan pengaruh lingkungan yang memperkuat.
f)
Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat/fase dalam
pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan
kecakapan baru. Misalnya anak dengan kakinya sudah siap untuk berjalan, tangan
dengan jari-jarinya sudah siap untuk menulis, dengan otaknya sudah siap untuk
berpikir abstrak, dan lain-lain. Kematangan belum berarti anak dapat
melaksanakan kegiatan secara terus-menerus, untuk itu diperlukan
latihan-latihan dan pelajaran. Dengan kata lain anak yang sudah siap (matang)
belum dapat melaksanakan kecakapnnya sebelum belajar. Belajarnya akan lebih
berhasil jika anaksudah siap ( matang). Jadi, kemajuan baru untuk memiliki
kecakapan tergantung dari kematangan dan belajar.
g)
Kesiapan
Kesiapan atau readiness menurut Jamies Drever adalah: Preparedness to respond or react. Kesiapan adalah kesediaan untuk
memberi respone atau bereaksi. Kesedian itu timbul dari dalam diri seseorang
dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan
untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses
belajar, karena jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan, maka hasil
belajarnya akan lebih baik.
3.
Faktor
Kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk
dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani
dan kelelahan rohani ( bersifat psikis).
Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah
lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan
jasmani terjadi karena kekacauan substansi sisa pembakaran di dalam tubuh,
sehingga darah tidak/kurang lancar pada bagian-bagian tertentu.
Kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya
kelusan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu
hilang. Kelelahan ini sangat terasa pada bagian kepala dengan pusing-pusing
sehingga sulit untuk berkonsentrasi, seolah-olah otak kehabisan daya untuk
bekerja. Kelelahan rohani dapat terjadi terus-menerus memikirkan masalah yang
dianggap berat tanpa istirahat, menghadapi hal-hal yang selalu sama/konstan
tanpa ada variasi, dan mengerjakan sesuatu karea terpaksa dan tidak sesuai
dengan bakat, minat dan perhatiannya.
Dari uraian di atas kelelahan dapat dapat
mempengaruhi belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik haruslah menghindari
jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya. Sehingga perlu diusahakan
kondisi bebas dari kelelahan.
Kelelahan baik secara jasmani maupun rohani
dapat dihilangkan dengan cara-cara sebagai berikut:
1.
Tidur
2.
Istirahat
3.
Mengusahakan
variasi dalam belajar, juga dalam bekerja
4.
Menggunakan
obat-obat yang bersifat melancarkan peredaran darah, misalnya obat gosok.
5.
Rekreasi
dan ibadah teratur.
6.
Olahraga
secara teratur, dan
7.
Mengimbangi
makan dengan dengan makanan yang memenuhi syarat-syarat kesehatan, misalnya
yang memenuhi empat sehat lima sempurna
8.
Jika
kelelahan sanagt serius cepat-cepat menghubungi seorang ahli, misalnya dokter,
psikiater, konselor dan lain-lain.
B. FAKTOR-FAKTOR EKSTERN
Faktor ekstern yang berpengaruh
terhadap belajar, dapatlah dikelompokkan menjadi 3 faktor, yaitu: faktor
keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
- Faktor
Keluarga
Siswa
yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa: cara orang tua
mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga, dan keadaan ekonomi
keluarga.
a.
Cara Orang Tua
Mendidik
Cara orang tua mendidik anaknya
besar pengaruhnya terhadap belajar anaknya. Hal ini jelas dan dipertegas oleh
Sujipto Wirowidjojo dengan pernyataannya yang menyatakan bahwa “Keluarga adalah
lembaga pendidikan yang pertaman dan utama”. Keluarga yang sehat besar artinya
untuk pendidikan dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan untuk
pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara, dan dunia.
Orang tua yang kurang/ tidak
memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya mereka acuh tak acuh terhadap
belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali akan kepentingan-kepentingan
dan kebutuhan-kebutuhan anaknnya dalam belajar, tidak mengatur waktu belajar,
tidak menyediakan/melengkapi alat belajarnya, tidak memperhatikan apakah anak
belajar atau tidak, tidak mau tahu bagaimana kemajuan belajar anaknya,
kesulitan-kesulitan yang dialami dalam belajar dan lain–lain, dapat menyebabkan
anak tidak/kurang berhasil dalam belajarnya. Mungkin anak sebetulnya pandai,
tetapi karena cara belajarnya tidak teratur, akhirnya kesukaran menumpuk
sehingga ketinggalan dalam belajarnya dan akhirnya anaknya malas belajar. Hasil
yang didapatkan, nilai/hasil belajarnya tidak memuaskan bahkan mungkin gagal
dalam studinya. Hal ini dapat terjadi pada anak dari keluarga yang kedua orang
taunya terlalu sibuk mengurus pekerjaan mereka atau kedua orang tua memang
tidak mencintai anaknya.
Mendidik anak dengan cara
memanjakan adalah cara mendidik yang tidak baik. Orang tua terlalu kasihan
terhadap anaknya tak sampai hati untuk memaksa anaknya belajar, bahkan
membiarkan saja jika anaknya tidak belajar dengan alas an segan, adalah tidak
benar, karena jika hal itu dibiarkan berlarit-larut anaknya menjadi nakal,
berbuat seenaknya saja, pastilah belajar menjadi kacau. Mendidik anak dengan cara
memperlakukannnya terlalu keras, memaksa dan mengejar-ngejar anaknya untuk
belajar, adalah cara mendidik yang juga salah. Dengan demikian anak tersebut
diliputi ketakutan dan kahirnya benci terhadap belajar, bahkan jika ketakutan
itu semakin serius anak mengalami gangguan kejiwaan akibat dari tekanan
tersebut. Orang tua ynag demikian biasanya menginginkan anaknya mencapai
prestasi yang sangat baik, atau mereka mengetahui bahwa anaknya bodoh tetapi
tidak tahu apa yang menyebabkan, sehingga anaknya dikejar-kejar untuk
mengatasi/mengejar kekurangannya.
Di sinilah bimbingan dan
penyuluhan memegang peranan yang penting. Anak/siswi yang mengalami
kesukaran-kesukaran di atas dapat ditolong dengan memberikan bimbingan belajar
yang sebaik-baiknya. Tentu saja keterlibatan orang tua akan sangat mempengaruhi
keberhasilan bimbingan tersebut.
- Relasi
Anggota Keluarga
Relasi antar anggota keluarga
yang terpenting adalah relasi orang tua dengan anaknya. Selain itu relasi anak
dengan saudaranya atau dengan anggota keluarga lainnya pun turut mempengaruhi
belajar anak. Wujud relasi itu misalnya apakah hubungan itu penuh dengan kasih
saying dan pengertian, ataukah diliputi oleh kebencian, sikap yang terlalu
keras, ataukah sikap yang acuh tak acuh dan sebagainya.
Sebetulnya relasi antaranggota
keluarga ini erat hubungannya dengan cara orang tua mendidik. Uraian cara orang
tua mendidik di atas menunjukkkan relasi yang tidak baik. Relasi semacam itu
akan menyebabkan perkembangan anak terhambat, belajarnya terganggu dan bahkan
dapat menimbulkan maslah-masalah psikologis yang lain. Demi kelancaran belajar
serta keberhasilan anak, perlu diusahakan relasi yang baik dalam keluarga anak
tersebut. Hubungan yang baik adalah hubungan yang penuh pengertian dan kasih
sayang, disertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman-hukuman untuk mensukseskan
belajar anak sendiri.
- Suasana
Rumah
Suasana rumah dimaksudkan sebagai
situasi atau kejadian-kejadian yang sering terjadi di dalam keluarga di mana
anak berada dan belajar. Suasana rumah juga merupakan faktor yang penting yang
tidak termasuk faktor yang sengaja. Suasana rumah yang gaduh/ramai dan semrawut
tidak akan memberi ketenangan kepada anak yang belajar. Suasana tersebut dapat
terjadi pada keluarga yang besar yang terlalu banyak penghuninya. Suasana rumah
yang tegang, rebut, dan sering terjadi cekcok, pertengkaran antar anggota
keluarga atau dengan keluarga lain menyebabkan anak menjadi bosan di rumah,
suka keluar rumah , akibatnya belajarnya kacau.
Rumah yang sering dipakai untuk
keperluan-keperluan, misalnya untuk resepsi, pertemuan, pesta-pesta, acar
keluarga, dan lain-lain dapat mengganggu belajar anak. Rumah yang bising dengan
suara radio, tape recorder atau TV pada waktu belajar, juga mengganggu belajar
anak, terutama untuk berkonsentrasi. Semua contoh di atas adalah suasana rumah
yang memeberi pengaruh negatif terhadap belajar anak.
Selanjutnya agar anak dapat
belajar dengan baik perlulah diciptakan suasana rumah yang tenang dan tentram.
Di dalam suasana rumah yang tenang dan tentram selain anak kerasan/betah
tinggal di rumah, anak juga dapat belajar dengan baik.
- Keadaan
Ekonomi Keluarga
Keadaan ekonomi keluarga erat
hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar selain harus
terpenuhi kebutuhan pokoknya, missal makanan, pakaian, perlindungan kesehatan
dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas belajar sebagai ruang belajar, meja,
kursi, penerangan, alat tulis menulis, buku-buku, dan lain-lain. Fasilitas
belajar itu hanya dapat terpenuhi jika keluarga mempunyai uang cukup.
Jika anak hidup dalam keluarga
dengan keadaan ekonomi yang lemah, kebutuhan pokok anak kurang terpenuhi,
akibatnya kesehatan anak terganggu, sehingga belajar anak juga terganggu.
Akibat yang lain anak selalu dirundung kesedihan sehingga anak merasa minder
dengan temannya, hal ini pasti akan mengganggu belajar anak. Bahkan mungkin
anak harus bekerja mencari nafkah untuk membantu orang tuanya walaupun
sebenarnya anak belum saatnya untuk bekerja, hal yang begitu juga akan
mengganggu belajar anak. Walaupun tidak dapat dipungkiri tentang adanya kemungkinan
anak yang serba kekurangan dan selalu menderita akibat ekonomi keluarga yang
lemah, justru kedaan yang begitu menjadi cambuk baginya untuk belajar lebih
giat dan akhirnya sukses besar.
Sebaliknya keluarga yang kaya
raya, orang tua sering mempunyai kecenderungan untuk memanjakan anak. Anak
hanya besenang-senang dan berfoya-foya, akibatnya anak kurang dapat memusatkan
perhatiannya untuk belajar. Hal tersebut juga mengganggu anak dalam belajar.
- Pengertian
Orang Tua
Anak belajar perlu dorongan dan
pengertian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas
di rumah. Kadang-kadang anak mengalami patah semangat, orang tua wajib memberi
pengertian dan mendorongnya, membantu sedapat mungkin kesulitan yang dialami
anak di sekolah. Kalau perlu menghubungi guru anaknya untuk mengetahui
perkembangannya.
- Latar
Belakang Kebudayaan
Tingkat pendidikan atau kebiasaan
di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak daam belajar. Perlu kepada anak
ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, agar mendorong semangat anak untuk
belajar.
2.
Faktor Sekolah
Faktor sekolah mempengaruhi
belajar anak ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa,
relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran, dan waktu sekolah,
standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah. Berikut ini
dibahas faktor-faktor tersebut satu persatu.
a.
Metode Mengajar
Metode mengajar adalah suatu
cara/jalan yang harus dilalui di dalam mengajar. Mengajar itu sendiri menurut
Ign. S. Ulih Bukit Karo Karo adalah menyajikan bahan pelajaran oleh orang
kepada orang lain agar orang lain itu menerima, menguasai, dan
mengembangkannya.
Dari uraian di atas jelaslah
bahwa metode mengajar itu mempengaruhi belajar. Metode mengajar guru yang
kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula. Metode
belajar yang kurang baik itu dapat terjadi pasalnya karena guru kurang
persiapan dan kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut
menyajikannya tidak jelas atau sikap guru terhadap siswa dan atau terhadap mata
pelajaran itu sendiri tidak baik, sehingga siswa kurang senang terhadap
pelajaran atau gurunya. Akibatnya siswa malas untuk belajar.
Guru biasa mengajar dengan metode
ceramah saja. Siswa menjadi bosan, mengantuk, pasif, dan hanya mencatat saja.
Guru yang progresif berani mencoba metode-metode yang baru, yang dapat membantu
meningkatkan kegiatan belajar mengajar, dan meningkatkan motivasi siswa untuk
belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka metode mengajar harus
diusahakan yang setepat, efiseien, dan efektif mungkin.
- Kurikulum
Kurikulum diartikan sebagai
jumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Kegiatan itu sbagian besar adalah
menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai, dan mengembangkan
bahan pelajaran itu. Jelaslah bahan pelajaran itu mempengaruhi belajar siswa.
Kurikulum yang kurang baik berpengaruh tidak baik terhadap belajar.
Kurikulum yang tidak baik itu
misalnya kurikulum yang terlalu padat, di atas kemampuan siswa, tidak sesuai dengan
bakat, minat dan perhatian siswa. Perlu diingat bahwa sistem instruksional
sekarang menghendaki proses belajar mengajar yang mementingkan kebutuhan siswa.
Guru perlu mendalami siswa dengan baik, harus mempunyai perencanaan yang
mendetail, agar dapat melayani siswa siswa belajar secara individual. Kurikulum
sekarang belum dapat memberikan pedoman perencanaan yang demikian.
- Relasi Guru dengan Siswa
Proses belajar
mengajar terjadi antara guru dengan siswa. Proses tersebut juga dipengaruhi
oleh relasi yang ada dalam proses itu sendiri. Jadi, cara belajar siswa juga
dipengaruhi oleh relasinya dengan guru.
Di dalam relasi yang
baik, siswa akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata pelajaran yang
diberikan sehingga siswa berusaha mempelajari sebaik-baiknya. Hal tersebut juga
terjadi sebaliknya, jika siswa membenci gurunya. Ia segan mempelajari mata
pelajaran yang diberikannya akibatnya pelajarannya tidak maju. Guru yang kurang
berinteraksi dengan siswa secara akrab, menyebabkan proses belajar mengajar itu
kurang lancer. Juga siswa merasa jauh dari guru, maka segan berpartisipasi
secara aktif dalam kelas.
- Relasi
Siswa dengan Siswa
Guru yang kurang mendekati siswa
dan kurang bijaksana, tidak akan melihat bahwa di dalam kelas ada grup yang
saling bersaling bersaing secara tidak sehat. Jiwa kelas itu terbina, bahkan
hubungan masing-masing siswa tidak tampak.
Siswa yang mempunyai sifat-sifat
atau tingkah laku yang kurang menyenangkan teman lain, mempunyai rasa rendah
diri atau sedang mengalami tekanan-tekanan batin, akan diasingkan dari
kelompok. Akibatnya makin parah masalahnya dan akan mengganggu belajarnya.
Terlebih lagi ia menjadi malas untuk masuk sekolah dengan alasan yang
tidak-tidak karena di sekolah mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan dari
teman-temannya. Jika hal ini terjadi, segeralah siswa diberi pelayanan
bimbingan dan penyuluhan agar ia dapat diterima kembali ke dalam kelompoknya.
Menciptakan relasi yang baik antar siswa adalah perlu, agar dapat memberikan
pengaruh yang positif terhadap belajar siswa.
- Disiplin
Sekolah
Kedisiplinan sekolah erat
hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam belajar.
Kedisiplinan sekolah mencakup kedisiplinan guru dalam mengajar dengan
melaksanakan tata tertib, kedisiplinan pegawai/karyawan dalam pekerjaan
administrasi dan kebersihan/keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman dan
lain-lain, kedisiplinan Kepala Sekolah dalam mengelola seluruh staf beserta
siswa-siswanya, dan kedisiplinan tim BP dalam pelayanannya kepada siswa.
Seluruh staf sekolah yang
mengikuti tata tertib dan bekerja dengan disiplin membuat siswa menjadi displin
pula, selain itu juga memberi pengaruh positif bagi belajarnya. Banyak sekolah
yang dalam pelaksanaanya kurang disiplin, sehingga mempengaruhi sikap belajar,
kurang bertanggung jawab, karena bila tidak melaksanakan tugas tidak ada
sangsi. Hal mana dalam belajar, siswa perlu didiplin, untuk mengembangkan
motivasi yang kuat.
- Alat
Pelajaran
Alat pelajaran erat hubungannya
dengan cara belajar siswa, karena alat pelajaran yang dipakai oleh guru pada
waktu mengajar dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan yang diajarkan itu.
Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan bahan
pelajaran yang diberikan kepada siswa. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan
menguasainya, maka belajarnya akan menjadi lebih giat dan lebih maju.
Kenyataan saat ini dengan
banyaknya tuntutan yang masuk sekolah, maka memerlukan alat-alat yang membantu
lancarnya belajar siswa dalam jumlah yang besar pula, seperti buku-buku di perpustakaan,
laboratorium atau media-media lainnya. Kebanyakan sekolah masih kurang memiliki
media dalam jumlah maupun kualitasnya.
Mengusahakan alat pelajaran yang
baik dan lengkap adalah perlu agar guru dapat mengajar dengan baik sehingga
siswa dapat menerima pelajaran dengan baik serta dapat belajar dengan baik
pula.
- Waktu
Sekolah
Waktu sekolah ialah waktu
terjadinya proses belajar mengajara di sekolah, waktu itu dapat di pagi hari,
siang, sore/malam hari. Waktu sekolah juga mempengaruhi belajar siswa. Jika
terjadi siswa terpaksa masuk sekolah di sore hari, sebenarnya kurang dapat
dipertanggungjawabkan. Dimana siswa harus beristirahat tetapi terpaksa masuk
sekolah, hingga mereka mendengarkan pelajaran sambil mengantuk dan sebagianya.
Sebaliknya siswa belajar di pagi hari, pikiran masih segar, jasmani dalam
kondisi yang baik. Jika siswa bersekolah pada waktu kondisi sudah lelah/lemah,
misalnya pada siang hari, akan menerima kesulitan dalam menerima pelajaran.
Kesulitan itu disebabkan karena siswa sukar berkonsentrasi dan berpikir pada
kondisi badan yang lemah tadi. Jadi memilih waktu sekolah yang tepat akan
memberi pengaruh yang positif terhadap belajar.
- Standar
Pelajaran di Atas Ukuran
Guru berpendirian untuk
mempertahankan wibawanya, perlu memberi pelajaran di atas ukuran standar.
Akibatnya siswa merasa kurang mampu dan takut kepada guru. Bila banyak siswa
yang tidak berhasil dalam mempelajari mata pelajarannya, guru semacam itu
merasa senang. Tetapi berdasarkan teori belajar, yang mengingat perkembangan
psikis dan kepribadian siswa yang berbeda-beda, hal tersebut tidak boleh
terjadi. Guru dalam menuntut penguasaan materi harus sesuai dengan kemampuan
siswa masing-masing. Yang penting tujuan yang telah dirumuskan dapat tercapai.
- Keadaan
Gedung
Dengan jumlah siswa yang banyak
serta variasi karateristik mereka masing-masing menuntut kedaan gedung dewasa
ini harus memadai di dalam setiap kelas.
- Metode
Belajar
Banyak siswa melaksanakan cara
belajar yang salah. Dalam hal ini perlu pembinaan dari guru. Dengan cara
belajar yang tepat maka akan efektif pula hasil belajar siswa itu. Juga dalam
pembagian waktu untuk belajar. Kadang-kadang siswa belajar tidak teratur, atau
terus menerus karena besok aka nada tes. Dengan belajar demikian siswa akan
kurang beristirahat, bahkan mungkin dapat jatuh sakit. Maka perlu belajar
secara teratur setiap hari, dengan pembagian waktu yang baik, memilih cara
belajar yang tepat dan cukup istirahat akan meningkatakan hasil belajar.
- Tugas
Rumah
Waktu belajar terutama adalah di
sekolah, di samping untuk belajar waktu di rumah biarlah digunakan untuk
kegiatan-kegiatan lain. Maka diharapkan guru jangan terlalu banyak memberi
tugas yang harus dikerjakan di rumah, sehingga anak tidak mempunyai waktu lagi
untuk kegiatan yang lain.
3.
Faktor Masyarakat
Masyarakat merupakan faktor
ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi
karena keberadaannya siswa dalam masyarakat.
a. Kegiatan
Siswa Dalam Masyarakat
Kegiatan siswa dalam masyarakat
dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Tetapi jika siswa ambil
bagian dalam kegiatan masyarakat yang terlalu banyak, misalnya berorganisasi,
kegiatan-kegiatan sosial, keagamaan, dan lain-lain, belajarnya akan terganggu,
lebih-lebih jika tidak bijaksana dalam mengatur waktunya.
Perlulah kiranya membatasi
kegiatan siswa dalam masyarakat supaya jangan sampai mengganggu belajarnya.
Jika mungkin memilih kegiatan yang mendukung belajar. Kegiatan itu misalnya
kursus Bahasa Inggris, PKK Remaja, kelompok diskusi, dan lain sebaginya.
- Media
Massa
Yang termasuk dalam media massa adalah
bioskop, radio, TV, surat kabar, majalah, buku-buku, komik-komik dan lain-lain.
Semuanya itu ada dan beredar dalam masyarakat.
Media massa yang baik memberi
pengaruh yang baik terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya. Sebaliknya massa
media yang jelek juga berpengaruh jelek terhadap siswa. Sebagai contoh, siswa
yang suka nonton atau membaca cerita-cerita detektif, pergaulan bebas,
pencabulan, akan berkecenderungan untuk berbuat seperti tokoh yang dikagumi
dalam cerita itu, karena pengaruh dari jalan ceritannya. Maka perlu kiranya
siswa mendapat bimbingan dan control yang cukup bijaksana dari pihak orang tau
dan pendidik.
- Teman
Bergaul
Pengaruh-pengaruh dari teman
bergaul siswa lebih cepat masuk dalam jiwanya daripada yang kita duga. Teman
bergaul yang baik akan berpengaruh baik akan diri siswa, begitu juga
sebaliknya. Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka perlulah diusahakan agar
siswa memiliki teman bergaul yang baik dan pembinaan pergaulan yang baik serta
pengawasan dari orang tua dan pendidik harus cukup bijaksana.
- Bentuk
Kehidupan Masyarakat
Kehidupan masyarakat di sekitar
siswa juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Mesyarakat yang terdiri dari
orang-orang yang tidak terepelajar, akan memberi pengaruh buruk kepada anak.
Akibatnya belajarnya terganggu dan bahkan anak/siswi kehilanagn semangat
belajar karena perhatiannya semula berpusat kepada pelajaran berpindah-pindah
ke perbuatan-perbuatan yang selalu dilakukan orang-orang di lingkungannya.
Sebaliknya jika anak berada di lingkungan orang-orang yang terpelajar, mereka
mendidik dan menyekolahkan anak-anaknya, antusias dengan cita-cita yang luhur
akan masa depan anaknya. Pengaruh yang baik dapat mendorong anak/siswi untuk
belajar lebig giat. Adalah perlu untuk mengusahakan lingkungan yang baik agar
dapat memberi pengaruh yang positif terhadap anak/siswa sehingga dapat belajar
dengan sebaik-baiknya.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan:
-
Faktor-faktor
yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua
golongan saja, yaitu faktor inten dan faktor ekstern. Faktor intern adalah
faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor
ekstern adalah faktor yang ada di luar individu.
-
Faktor intern terdiri
dari faktor jasmaniah, faktor
psikologis, dan faktor kelelahan.
-
Faktor ekstern
terdiri dari faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Slameto.2013.Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi.Jakarta:
Rineka Cipta.
Syah,Muhibbin.2008.Psikologi belajar.Jakarta:PT Raja
Grafindo Persada.
Supriyono,Widodo.,
dan Abu Ahmadi.1991.Psikologi
belajar.Jakarta:PT Rineka Cipta.


terimakasih infonya :)
BalasHapus